Sebuah penyelidikan oleh militer Israel menetapkan, Hamas, yang ditetapkan oleh AS sebagai kelompok teror, mampu melakukan serangan paling mematikan pada 7 Oktober 2023 dalam sejarah Israel karena tentara Israel yang jauh lebih kuat meremehkan kemampuan kelompok itu.
Temuan yang dirilis pada hari Kamis (27/2) itu dapat menekan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk melancarkan penyelidikan lebih luas dengan banyak permintaan untuk memeriksa pengambilan keputusan politik sebelum serangan itu.
Banyak warga Israel percaya bahwa kegagalan yang terjadi pada 7 Oktober tersebut tidak hanya disebabkan oleh militer dan menyalahkan Netanyahu atas kegagalan kebijakan pencegahan dan pengendalian serangan pada tahun-tahun menjelang serangan itu. Pendekatan itu termasuk mengizinkan Qatar mengirim sejumlah besar uang tunai ke Gaza dan mengesampingkan saingan Hamas, Otoritas Palestina yang diakui secara internasional.
Perdana menteri itu belum mengambil tanggung jawab, dan mengatakan dia akan menjawab pertanyaan-pertanyaan sulit hanya setelah perang, yang kini terhenti selama hampir enam minggu, karena gencatan senjata yang lemah. Meskipun ada tekanan dari publik, termasuk dari para keluarga sekitar 1.200 orang yang tewas dalam serangan 7 Oktober, dan 251 orang yang disandera di Gaza, Netanyahu menolak seruan pembentukan komisi penyelidikan.
Temuan utama militer adalah, militer paling kuat dan canggih di kawasan itu salah membaca niat Hamas, meremehkan kemampuannya dan sama sekali tidak siap menghadapi serangan mendadak pada pagi hari ketika berlangsung hari raya besar Yahudi.
Temuan militer itu sejalan dengan kesimpulan terdahulu yang dicapai oleh para pejabat dan pengamat. Pihak militer hanya merilis ringkasan laporan tersebut dan para pejabat militer menjelaskan garis besar dari temuan-temuannya. [ps/lt]
Forum