Otoritas lembaga pemasyarakatan di Myanmar dituduh melakukan kekerasan terhadap seorang jurnalis yang ditahan setelah dia mengungkap pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di dalam penjara, menurut atasan dari jurnalis itu.
Sai Zaw Thaike, jurnalis foto dari kantor berita independen Myanmar Now, ditahan di penjara Insein, sebuah fasilitas dengan catatan pelanggaran HAM yang mengerikan.
Dia dan dua tahanan yang lain, Thet Hnin Aung dan Naing Win, telah menjadi sasaran kekerasan fisik dan mental setiap hari sejak Januari, menurut Myanmar Now.
Para tahanan dipukuli setiap hari, lapor Myanmar Now.
Kekerasan itu diyakini menjadi pembalasan bagi Sai Zaw Thaike dan tahanan lain yang memberikan informasi kepada perwakilan Komisi HAM Nasional yang berkunjung ke penjara itu bahwa staf penjara telah melanggar hak asasi para tahanan, lapor kantor berita tersebut dengan mengutip sejumlah sumber dari dalam penjara.
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang ditunjuk junta memiliki mandat untuk mengawasi dan melindungi hak-hak asasi rakyat Myanmar.
Namun, sebuah komite dari Aliansi Global Lembaga Hak Asasi Manusia nonpartisan pada 2024 merekomendasikan penundaan keanggotaan komisi ini karena berbagai keluhan complain, termasuk terkait independensi lembaga itu.
Myanmar Now menyatakan bahwa mereka percaya tindakan terhadap jurnalis foto mereka juga merupakan hukuman atas pembocoran bocornya informasi ke outlet berita ketika dia sedang ditahan, dan atas laporannya tentang pihak militer sebelum dia ditahan.
Pihak militer Myanmar tidak segera merespon permintaan VOA untuk berkomentar.
Sai Zaw Thaike ditahan pada Mei 2023 dan pada akhir tahun itu dijatuhi hukuman 20 tahun di penjara untuk dakwaan penghasutan.
Dia adalah satu dari puluhan jurnalis yang ditahan sejak pihak militer merebut kekuasaan dalam kudeta pada Februari 2021.
Pihak militer, yang dikenal sebagai Tatmadaw, berupaya mengontrol media melalui pemenjaraan, pencabutan izin siaran dan pemblokiran akses internet, kata lembaga pengawas. Lingkungan yang keras bagi media membuat sejumlah outlet media tutup dan banyak jurnalis dan operasional mereka pindah ke luar negeri.
Komite Perlindungan Jurnalis atau CPJ yang berbasis di AS, mendesak pihak militer menghentikan kekerasan itu.
“Junta Myanmar harus mengidentifikasi dan meminta pertanggungjawaban mereka yang bertanggung jawab menyerang jurnalis Sai Zaw Thaike,” kata perwakilan senior CPJ untuk Asia Tenggara, Shawn Crispin dalam sebuah pernyataan.
“Jenis kekerasan ini kejam dan mengerikan,” kata Crispin. Ia menambahkan bahwa pihak militer “harus menghentikan pemenjaraan dan kekerasan terjhadap jurnalis saat ini juga”.
VOA tidak mampu melakukan verifikasi secara independen terkait laporan kekerasan itu. Namun, kelompok-kelompok HAM telah lama mendokumentasikan penyiksaan di dalam tahanan Myanmar. Mantan narapidana di penjara Insein telah melaporkan dilakukannya pemukulan, pembakaran dan penyetruman listrik.
Pada 2022, seorang jurnalis dari outlet berita independen Frontier Myanmar mengatakan bahwa dia dipukul dan diperkosa oleh tentara rezim ketika ditahan.
Myanmar berada di rangking ketiga terburuk di dunia dalam hal pemenjaraan jurnalis, menurut CPJ, dengan 35 jurnalis ditahan karena kerja jurnalistiknya menurut data pada Desember. Di antara mereka adalah kontributor VOA siaran bahasa Burma.
Negara itu berada di posisi 171 dari 180 negara dalam indeks Kebebasan Pers Dunia, di mana posisi 1 menunjukkan lingkungan kebebasan media yang paling baik. [ns/ka]
Forum