Perang Rusia selama tiga tahun melawan Ukraina masih sangat penuh ketidakpastian pada hari Minggu (2/3), dengan AS mengatakan tidak tahu apakah perdamaian mungkin tercapai sementara para pemimpin Eropa bertemu di London untuk menyatakan mereka terus mendukung pasukan Kyiv.
Perkembangan baru itu terjadi dua hari setelah pertemuan di Washington antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy yang berubah menjadi konfrontasi yang intens ketika pemimpin AS itu memerintahkan mitranya tersebut agar meninggalkan Gedung Putih dan kesepakatan yang prospektif mengenai mineral tanah jarang antara AS-Ukraina akhirnya tidak ditandatangani.
“Kita memerlukan perubahan yang sangat radikal,” kata Lord Peter Mandelson, Duta Besar Inggris untuk AS, dalam acara televisi ABC “This Week.” Tidak ada perundingan perdamaian yang dijadwalkan.
Penilaian Mandelson itu muncul sementara PM Inggris Keir Starmer mengumpulkan belasan pemimpin Eropa, bersama Zelenskyy, untuk menjanjikan dukungan senjata berkelanjutan mereka bagi para pejuang Ukraina, bahkan ketika dukungan AS goyah.
Starmer, yang duduk di sebelah Zelenskyy dan di depan bendera Ukraina dan negara-negara Eropa, mengatakan itu adalah “momen sekali dalam satu generasi bagi keamanan Eropa dan kita semua perlu melangkah maju.”
“Saya harap Anda tahu bahwa kami semua bersama Anda dan rakyat Ukraina selama diperlukan, semua yang berada di sekitar meja ini,” kata Starmer kepada pemimpin Ukraina itu.
“Kita perlu menyepakati apa langkah-langkah yang dihasilkan dari pertemuan ini untuk mewujudkan perdamaian melalui kekuatan demi kepentingan semua,” imbuhnya.
Tetapi Trump memberitahu Zelenskyy pada hari Jumat bahwa pemimpin Ukraina itu hanya akan dipersilakan kembali ke Gedung Putih “jika ia siap untuk perdamaian.”
Penasihat keamanan nasional Trump, Michael Waltz, ketika berbicara mengenai Zelenskyy, mengatakan dalam acara “State of the Union” di televisi CNN, “Apa yang tidak jelas bagi kami adalah apakah ia memiliki tujuan yang sama seperti kami untuk mengakhiri perang ini. Tidak jelas apakah ia siap untuk menuju perdamaian.”
Waltz mengatakan bahwa pada akhirnya Rusia dan Ukraina harus merundingkan konsesi untuk mencapai kesepakatan perdamaian. “Akan ada semua imbalan dan hukuman untuk mencapai ini,” katanya.
Menteri Luar Negeri Marco Rubio juga menekankan pentingnya kedua pihak untuk maju ke meja perundingan.
“Kami berupaya untuk mengakhiri perang,” kata Rubio. “Anda tidak dapat mengakhiri perang kecuali jika kedua pihak datang ke meja perundingan, dimulai dengan Rusia. Dan inilah yang disampaikan presiden. Dan kita harus berupaya sekuat tenaga untuk berusaha membawa mereka ke meja perundingan, untuk melihat apakah ini mungkin terjadi.”
“Saya tidak berjanji bahwa ini mungkin terjadi,” lanjutnya. “Saya tidak mengatakan kepada Anda bahwa ini kemungkinannya 90%. Saya mengatakan kemungkinannya 0% jika kita tidak membawa mereka ke meja perundingan. Dan semakin cepat semua orang di sini bersikap matang dan mengetahui bahwa ini adalah perang yang buruk yang menuju ke arah yang buruk dengan kematian dan kehancuran dan semua jenis bahaya yang mengelilinginya sehingga ini dapat membuatnya memburuk menjadi konflik yang lebih luas, semakin cepat pula orang bersikap matang dan menyadari bahwa saya pikir lebih banyak kemajuan yang akan dapat kita buat.”
Starmer mengatakan Inggris, Prancis dan Ukraina telah setuju untuk membahas rencana gencatan senjata untuk disampaikan ke AS. Beberapa negara Eropa telah mengatakan mereka bersedia mengirimkan pasukan penjaga perdamaian ke Ukraina untuk membantu menegakkan perjanjian perdamaian mendatang tetapi perlu AS untuk memberi dukungan militer cadangan guna menghadapi Rusia jika Presiden Vladimir Putin menyetujui gencatan senjata dan kemudian melanggarnya atau meluncurkan invasi baru.
Trump menolak mengirimkan dukungan AS semacam itu dan mengatakan ia percaya Putin akan menghormati penyelesaian perang apa pun yang ia sepakati. [uh/ab]
Forum