Tautan-tautan Akses

Para Penyelam Cari Kotak Hitam Pesawat AirAsia

Penyelam Angkatan Laut Indonesia menunggu di sekoci mereka setelah menyelam untuk mengangkat ekor pesawat AirAsia QZ8501 di Laut Jawa, Kamis (8/1).
Penyelam Angkatan Laut Indonesia menunggu di sekoci mereka setelah menyelam untuk mengangkat ekor pesawat AirAsia QZ8501 di Laut Jawa, Kamis (8/1).

Sedikitnya enam kapal dengan peralatan yang dapat mendeteksi obyek-obyek bawah laut dan kotak hitam pesawat, dibantu sembilan kapal perang, bekerja di wilayah tempat ekor pesawat terlihat.

Ekor pesawat jet penumpang AirAsia yang jatuh bulan lalu berposisi terbalik dan sebagian terbenam di dasar laut, dan para ahli sedang mencoba mencari cara untuk mengambil kotak hitam pesawat itu, menurut seorang pejabat Badan SAR Nasional.

Para penyelam dan sebuah kendaraan bawah laut tak berawak pada Rabu (7/1) menemukan ekor pesawat yang jatuh ke dalam Laut Jawa dengan 162 orang di dalamnya itu. Penemuan ini penting karena kotak hitam jet tersebut, yang seharusnya dapat membantu menunjukkan sebab jatuhnya pesawat -- berada di bagian belakang pesawat itu.

Sedikitnya enam kapal dengan peralatan yang dapat mendeteksi obyek-obyek bawah laut dan kotak hitam pesawat, dibantu sembilan kapal perang, bekerja di wilayah tempat ekor pesawat terlihat, menurut Suryadi B. Supriyadi, koordinator pencarian dan penyelamatan Basarnas dari pangkalan angkatan udara di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.

Suryadi mengatakan nomor registrasi PK-AXC dan bagian logo AirAsia membuktikan bahwa memang itu bagian dari pesawat yang jatuh. Ia mengatakan dua penyelam militer Indonesia menunjukkan bagaimana ekor pesawat jatuh ke dalam dasar laut berlumpur dalam keadaan terbalik.

"Tim-tim ahli dari Indonesia dan Perancis sekarang ini mencari teknik untuk menemukan dan mengangkat kotak hitam dari ekor pesawat dalam posisi seperti itu," ujar Suryadi.

Bagian ekor tersebut berada sekitar 9 kilometer dari posisi terakhir pesawat bernomor penerbangan 8501 itu sebelum kehilangan kontak pada 28 Desember.

Wilayah Pencarian Pesawat dan Korban AirAsia Diperluas

Para anggota tim penyelamatan membawa perahu karet di depan kapal SAR KN Purworejo dalam operasi pencarian untuk para penumpang AirAsia bernomor penerbangan 8501 di pelabuhan Kumai di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah (6/1). (Reuters/Beawiharta)
1/6 Para anggota tim penyelamatan membawa perahu karet di depan kapal SAR KN Purworejo dalam operasi pencarian untuk para penumpang AirAsia bernomor penerbangan 8501 di pelabuhan Kumai di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah (6/1). (Reuters/Beawiharta)
Para ulama berdoa sebelum menaiki helikopter NAS 332 Super Puma milik Angkatan Udara Indonesia. Para ulama itu akan terbang melintasi Laut Jawa tempat jatuhnya pesawat AirAsia bernomor penerbangan 8501 untuk mendoakan para korban, di Bandar Udara Iskandar di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Indonesia (6/1). (AP/Achmad Ibrahim)
2/6 Para ulama berdoa sebelum menaiki helikopter NAS 332 Super Puma milik Angkatan Udara Indonesia. Para ulama itu akan terbang melintasi Laut Jawa tempat jatuhnya pesawat AirAsia bernomor penerbangan 8501 untuk mendoakan para korban, di Bandar Udara Iskandar di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Indonesia (6/1). (AP/Achmad Ibrahim)
Seorang ulama menaburkan bunga setelah mendoakan para korban AirAsia bernomor penerbangan 8501 dari dalam helikopter Angkatan Udara RI yang melintasi Laut Jawa dari Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah (6/1).
3/6 Seorang ulama menaburkan bunga setelah mendoakan para korban AirAsia bernomor penerbangan 8501 dari dalam helikopter Angkatan Udara RI yang melintasi Laut Jawa dari Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah (6/1).
Para anggota tim penyelamatan mengangkut jenazah seorang korban AirAsia penerbangan 8501 di pangkalan udara Iskandar, Pangkalan Bun (6/1). (Reuters/Beawiharta)
4/6 Para anggota tim penyelamatan mengangkut jenazah seorang korban AirAsia penerbangan 8501 di pangkalan udara Iskandar, Pangkalan Bun (6/1). (Reuters/Beawiharta)
Panglima Tentara Nasional Indonesia Jenderal Moeldoko (tengah) memantau operasi pencarian para korban AirAsia bernomor penerbangan 8501 di bandar udara di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah (6/1). (AP/Achmad Ibrahim)
5/6 Panglima Tentara Nasional Indonesia Jenderal Moeldoko (tengah) memantau operasi pencarian para korban AirAsia bernomor penerbangan 8501 di bandar udara di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah (6/1). (AP/Achmad Ibrahim)
Para ulama berdoa untuk para korban jatuhnya pesawat AirAsia dalam helikopter yang melintasi Laut Jawa (6/1). (AP/Achmad Ibrahim)
6/6 Para ulama berdoa untuk para korban jatuhnya pesawat AirAsia dalam helikopter yang melintasi Laut Jawa (6/1). (AP/Achmad Ibrahim)
Previous slide
Next slide

Tony Fernandes, CEO AirAsia, menyambut baik berita tersebut. Ia menulis di Twitter bahwa jika memang itu bagian ekor pesawat, maka alat-alat perekam suara kokpit dan data penerbangan, atau kotak-kotak hitam, "seharusnya ada di situ."

Ia mengatakan prioritas maskapai itu adalah menemukan semua jenazah "untuk mengurangi duka cita para keluarga kita."

Maskapai itu mengatakan seluruh keluarga korban akan mendapatkan kompensasi sesuai dengan hukum Indonesia.

Masing-masing akan menerima Rp 1,25 miliar, menurut presiden AirAsia Indonesia, Sunu Widyatmoko, pada wartawan di Surabaya.

Sejauh ini, 40 jenazah telah ditemukan, namun waktu hampir habis karena setelah dua minggu, sebagian besar jenazah akan tenggelam, ujar Kombespol Anton Castilani, kepala unit identifikasi korban bencana, dan sudah ada tanda-tanda jenazah-jenazah itu telah melapuk.

Pihak berwenang masih berharap banyak dari lebih dari 122 mayat itu akan ditemukan di dalam badan pesawat, yang diyakini ada di dekat ekor pesawat. (AP)

XS
SM
MD
LG