Muhammad Ali berbicara di konvensi Muslim kulit hitam di Chicago, AS, 25 Februari 1968.
Sejak gejolak pergerakan hak-hak sipil tahun 1960an sampai pasca 9/11, Ali adalah seorang pahlawan yang membuat Muslim AS merasa jadi bagian rakyat Amerika.
Kematian legenda tinju Muhammad Ali membuat warga Muslim di Amerika kehilangan seseorang yang mungkin merupakan pahlawan terbesar mereka, duta kehormatan untuk Islam di sebuah negara tempat keyakinan minoritas disalahpahami dan dicurigai.
"Kami bersyukur pada Tuhan ada dia," ujar Talib Shareef, presiden dan imam Masjid Muhammad di Washington, kepada sekelompok pemimpin Muslim yang memberi penghormatan kepada Ali di Washington hari Sabtu (4/6), sehari setelah ia meninggal dunia di sebuah rumah sakit di Phoenix pada usia 74 tahun.
"Amerika seharusnya berterima kasih pada Tuhan atas dia. Ia adalah pahlawan Amerika."
Sejak gejolak pergerakan hak-hak sipil dan Muslim kulit hitam tahun 1960an sampai hari-hari kelam setelah 11 September 2001, Ali adalah seorang pahlawan yang membuat Muslim AS merasa jadi bagian rakyat Amerika.
Komunitas Muslim mengingat Ali untuk banyak alasan, yakni sebagai aktivis keadilan sosial, pendukung banyak kegiatan amal sepanjang hidupnya, dan menolak perang AS di Vietnam.
Selain itu, menurut mereka, ia adalah seorang Muslim yang dihormati di sebuah negara yang mayoritasnya Kristen, bahkan saat Ali membuat banyak orang terkejut dan takut saat ia bergabung dengan kelompok Nation of Islam dan mengubah namanya dari Cassius Clay tahun 1964.
"Ketika kita melihat sejarah komunitas Afrika Amerika, salah satu faktor penting dalam mempopulerkan Islam di Amerika adalah Muhammad Ali," ujar Warith Deen Mohammed II, putra mantan pemimpin Nation of Islam, dalam sebuah pernyataan.
Dengan sekitar 3,3 juta orang di AS, Muslim mencakup 1 persen populasi, sebagian besar imigran dan orang Afrika Amerika yang memeluk agama itu.
Meskipun mereka telah berintegrasi ke dalam masyarakat lebih baik dibandingkan dengan sesama Muslim di Eropa, Muslim Amerika mengalami kesulitan bahkan ketika secara demografis, jumlah orang kulit putih dan orang Kristen berkurang.
Sejak 2001, mereka menghadapi reaksi buruk dari warga Amerika yang menyamaratakan semua Muslim dengan mereka yang menyerang warga sipil atas alasan jihad.
Mengenang Muhammad Ali
1/20Legenda tinju Muhammad Ali bersama istrinya Yolanda saat diperkenalkan sebelum pertandingan tinju kelas welter antara Floyd Mayweather Jr. dan Shane Mosley di MGM Grand Garden Arena, Las Vegas, Nevada, 1 Mei 2010. (Reuters/Steve Marcus)
Tampilkan selengkapnyaShow less
2/20Muhammad Ali, juara tinju dunia kelas berat, meninju 'speed bag' di Folk Art Center di Manila, Filipina, 29 September 1975, saat bersiap melawan Joe Frazier dalam pertandingan 1 Oktober. (AP/Jess Tan)
Tampilkan selengkapnyaShow less
3/20Muhammad Ali berbicara kepada komunitas Muslim sambil memegang buku "Menuju Pemahaman Islam" yang ditulis Sayyid Abul Ala Maududi di London, Inggris, Mei 1966.
Tampilkan selengkapnyaShow less
4/20Para anggota The Beatles, dari kiri, Paul McCartney, John Lennon, Ringo Starr dan George Harrison berpura-pura mendapat tinju dari Cassius Clay, yang kemudian mengganti namanya menjadi Muhammad Ali, saat mengunjungi petinju itu di Miami Beach, Florida, 18 Februari 1964.
Tampilkan selengkapnyaShow less
5/20Muhammad Ali dikawal dari tempat pemeriksaan militer di Houston oleh Letkol J. Edwin McKee, setelah Ali menolak masuk wajib militer, 28 April 1967.
Tampilkan selengkapnyaShow less
6/20Muhammad Ali berseru "Kenapa saya?" ketika dimasukkan dalam wajib militer, 17 Februari 1966, dikelilingi anak-anak muda di Louisville, Kentucky. (AP/Toby Massey)
Tampilkan selengkapnyaShow less
7/20Petinju legendaris Muhammad Ali berpose dalam upacara Crystal Award di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, 28 Januari 2006. (Reuters/Andreas Meier)
Tampilkan selengkapnyaShow less
8/20Muhammad Ali dalam pertandingan dengan Joe Frazier di Manila, Filipina, 1 Oktober 1974. (AP/Mitsunori Chigita)
Tampilkan selengkapnyaShow less
9/20Seorang pengunjung ditanya reaksinya atas kematian Muhammad Ali di tengah pameran "I Am The Greatest, Muhammad Ali" di O2 arena, tempat berlangsungnya pertandingan-pertandingan tinju papan atas, di London (4/6). (AP/Matt Dunham)
Tampilkan selengkapnyaShow less
10/20Muhammad Ali mendapatkan penghargaan Courage Award dari penyanyi Whitney Houston dalam acara GQ Men of the Year di New York, 21 Oktober 1998. (Reuters/Jeff Christensen)
Tampilkan selengkapnyaShow less
11/20Petinju Laila Ali berpose bersama ayahnya Muhammad Ali setelah mengalahkan Erin Toughill di MCI Center, Washington, 11 June 2005. (AP/Pablo Martinez Monsivais)
Tampilkan selengkapnyaShow less
12/20Muhammad Ali mengunjungi piramida di Mesir, menunggang unta dan berjabat tangan dengan orang suku Bedouin yang menjaga monumen-monumen di sana, 30 Mei 1966.
Tampilkan selengkapnyaShow less
13/20Presiden George W. Bush memberikan medali kehormatan kepresidenan kepada Muhammad Ali di Gedung Putih, 9 November 2005. (AP/Evan Vucci)
Tampilkan selengkapnyaShow less
14/20Muhammad Ali melambaikan tangannya setelah mendapat medali Liberty atas kerja sosialnya, dalam upacara di National Constitution Center, 13 September 2012, di Philadelphia. (AP/Matt Rourke)
Tampilkan selengkapnyaShow less
15/20Muhammad Ali mengalahkan penantangnya Sonny Liston, yang terkapar di lantai, dalam pertandingan di Lewiston, Maine, 25 Mei 1965. (AP/John Rooney)
Tampilkan selengkapnyaShow less
16/20Dalam foto tertanggal 15 November 1962, Muhammad Ali, saat masih bernama Cassius Clay, menunjuk tulisannya di papan tulis yang menyatakan prediksinya mengalahkan Archie Moore dalam empat ronde, dan itu terjadi. (AP/Harold P. Matosian)
Tampilkan selengkapnyaShow less
17/20Muhammad Ali bersama pemimpin kulit hitam Muslim Malcolm X di New York City, 1 Maret 1964.
Tampilkan selengkapnyaShow less
18/20Muhammad Ali memainkan rambut komentator olahraga di televisi, Howard Cosell, sebelum dimulainya pertandingan uji coba Olimpiade di West Point, New York, 7 Agustus 1972.
Tampilkan selengkapnyaShow less
19/20Muhammad Ali menundukkan penantangnya, George Foreman, yang jatuh ke kanvas pada ronde kedelapan pertandingan WBA/WBC di Kinshasa, Zaire, 30 Oktober 1974.
Tampilkan selengkapnyaShow less
20/20Muhammad Ali melambaikan tangannya kepada penonton Kejuaraan Dunia Menunggang Kuda di Lexington, Kentucky, 25 September 2010. (Reuters/John Sommers II)
Tampilkan selengkapnyaShow less
Previous slide
Next slide
Berpuluh tahun yang lalu, pemimpi-pemimpin Muslim kulit hitam seperti Elijah Muhammad dan Malcolm X menggebrak pemerintah kulit putih sebagai minoritas agama dan etnis yang menuntut persamaan atas kelompok mereka. Elijah Mohammad memperjuangkan semacam penolakan terhadap penindasan oleh kulit putih dan menolak integrasi ras.
Ali dipuja-puja secara luas, tapi ada saatnya ia ditolak, sebagian besar oleh orang kulit putih dan juga beberapa pemimpin kulit hitam karena pernyataan-pernyataannya yang keras melawan supremasi kulit putih dan penolakannya untuk mengikuti model yang dicontohkan oleh Martin Luther King, seorang Kristen.
"Pembersihan citra Ali pada tahun-tahun belakangan telah membuat banyak orang lupa bahwa ia dicaci-maki banyak pihak pada tahun 1960an karena memeluk agama Islam dan karena menolak wajib militer," ujar Frank Guridy, profesor tamu bidang sejarah di Columbia University.
"Ia dianggap sebagai pengkhianat Amerika Serikat."
Tahun 1970an, Ali memeluk ajaran Islam Sunni, sekte terbesar diantara Muslim di dunia, dan menekuni Sufisme.
Pada pertemuan pemimpin Muslim Amerika di Washington, pembicara demi pembicara mengenangnya dengan penuh rasa sayang sebagai Muslim yang akhirnya dicintai rakyat Amerika.
Ali membela warga Muslim Desember lalu, setelah kandidat calon presiden dari Partai Republik, Donald Trump, mengusulkan penghentian sementara masuknya Muslim ke negara itu, menyusul serangan militan Islamis di Paris dan San Bernardino, California.
"Para pemimpin politik kita seharusnya menggunakan posisi mereka untuk membawa pemahaman mengenai agama Islam, dan menjelaskan bahwa para pembunuh yang salah arah itu memiliki pandangan yang melenceng mengenai apa Islam sebenarnya," ujar Ali dalam pernyataan.
Ia juga menggunakan pengaruhnya untuk mengadvokasi pembebasan Jason Rezaian, wartawan Washington Post yang dipenjara 18 bulan di Iran, dan Daniel Pearl, wartawan Wall Street Journal yang ditangkap ekstremis Islamis di Pakistan, dan kemudian dipenggal kepalanya tahun 2002.
"Muhammad Ali adalah hadiah dari Tuhan," ujar Nihad Awad, direktur eksekutif Dewan Hubungan Amerika-Islam, "bukan hanya untuk Muslim tapi juga untuk dunia." [hd]