Sebuah laporan dari University of Pittsburgh menyatakan bahwa sekitar 40 persen warga Amerika menetapkan resolusi tahun baru. Namun, laporan itu juga menyebutkan bahwa tidak banyak yang benar-benar mewujudkannya.
Dalam salah satu artikel di situs web mereka, National Today dan Huffington Post bahkan melaporkan bahwa sekitar 80 persen orang gagal menjalankan resolusi tahun baru.
Mengapa demikian?
"Karena tujuan atau resolusi mereka tidak realistis," ujar Rini Wilson, seorang pakar kebugaran di Amerika Serikat. Ia memberi contoh resolusi seperti “ingin hidup lebih sehat” atau “ingin memperbanyak uang” itu kurang spesifik dan sulit diukur. Akibatnya, sulit untuk melacak kemajuan atau menjaga motivasi.
Faktor lain, menurut Certified Mindfulness Teacher ini, “Kurangnya rencana!"
Bahkan, Rini mengingatkan, "Niat terbaik pun bisa gagal kalau misalkan kita tidak ada rencana untuk mencapainya. Jadi, kalau resolusinya tidak dipecah menjadi tugas-tugas kecil, yang lebih mudah di-handle, resolusi besarnya tidak akan kesampaian.”
Rini menyebut faktor dukungan (support system) juga merupakan hal yang penting dalam menjalankan resolusi tahun baru. Menurutnya, mencapai satu tujuan akan lebih mudah apabila kita mempunyai teman yang memberi dorongan. Kalau kita melakukannya sendirian, kata Rini, akan lebih besar kemungkinan kehilangan motivasi.
Instruktur yoga yang sudah terdaftar mengajar lebih dari 500 jam ini menambahkan bahwa menyerah pada upaya mencapai resolusi, tidak lepas dari pola berpikir.
“Sering orang meninggalkan resolusi mereka setelah mengalami satu kegagalan. Mereka berpikir bahwa setelah gagal maka tak perlu dilanjutkan. Sementara yang perlu mereka kenali adalah bahwa kemajuan itu merupakan sebuah journey atau perjalanan. Kalau memang gagal di awal, sebenarnya gak apa-apa, tinggal bangun lagi dan lanjutkan,” imbuhnya.
Rini mengingatkan bahwa banyak faktor lain yang dapat berperan dalam menyebabkan kegagalan seseorang mencapai resolusinya dan faktor-faktor itu di luar kendali kita. Ia menyebutkan kondisi kesehatan, keadaan lingkungan misalnya pandemi, bahkan faktor keuangan dan prioritas hidup.
Dermawan Ismail, seorang praktisi media, MC dan pengisi suara di Jakarta, membeberkan kegagalannya dalam mewujudkan resolusi. “Ingin umroh ternyata kagak jadi karena keterbatasan dana yang kemudian dialihkan untuk hal yang lebih mendesak (perbaiki rumah orang tua.) Iya sih sedih, tapi tetap semangat dan optimistis kok. Insya Allah rezeki tidak ke mana-mana,” sebutnya.
Gagal mencapai resolusi akhir tahun karena kondisi kesehatan dialami Angel, yang sementara ini menetap di Albany, New York, untuk mendampingi suaminya menuntut ilmu. Angel mengungkapkan bahwa pada tahun 2025 ini ia akan mengurangi makan nasi dan menggantinya dengan sereal dan susu. Namun, ia baru tahu bahwa dia lactose intolerance.
Intoleransi laktosa adalah gangguan pencernaan yang terjadi ketika tubuh tidak bisa mencerna laktosa dengan baik. Laktosa adalah salah satu jenis gula yang terdapat dalam susu dan produk olahannya. Jadi... resolusi Angel langsung gagal.
Ilham Samudera mengalami hal serupa. Research executive di sebuah platform medsos dan berdomisili di Singapura ini pada awal tahun menetapkan resolusinya untuk menjalani “zero sugar” atau berhenti mengonsumsi gula. Namun, rendahnya kadar gula, mengganggu peminat golf ini. Ia menuturkan, “Waktu bangun (dari jongkok), gue langsung keleyengan, hampir blackout (pingsan). Nah, dari situ, temen gue sampai harus bantuin gue supaya nggak jatuh gitu. Dari situ temen gue bilang ‘inilah kalo sok-sokan zero sugar.’ Sebenarnya zero sugar itu ada bagusnya dan enggak bagusnya dia bilang gitu.”
Ilham menyadari bahwa ia tidak bisa berhenti total mengonsumsi gula. Supaya tidak lagi mengganggu kesehatan, ia kini membatasi asupan gula.
Presenter sekaligus pengusaha di Jakarta, Fauzan Zaman, mengungkapkan resolusi tahun 2025 yang menurutnya lebih rumit daripada resolusi orang pada umumnya. "Banyak dipengaruhi oleh ‘trust issue’ yang penting dalam membangun usaha jangka panjang bersama mitra bisnis," ujarnya.
“Sustainability tentu menjadi pertaruhan dan masalah kepercayaan untuk membangun atau menjalin kemitraan menjadi suatu hal yang sangat sentral. Dan hal tersebut bisa tidak tercapai ketika trust issue yang terbentuk di antara mitra atau partner yang ada, tidak mencapai hasil yang maksimal berupa sebuah kesepakatan dalam jangka waktu panjang.”
Lalu, apa yang bisa kita lakukan supaya resolusi tahun baru tidak gagal dalam waktu singkat sebelum melewati batas seperempat tahun?. Rini menyarankan agar membuat resolusi yang sesuai dan bermakna bagi diri kita.
“Pilih resolusi sebagai refleksi dari apa yang ada di tahun sebelumnya. Pilih resolusi yang selaras dengan nilai-nilai atau value kita. Buat resolusi yang lebih spesifik, dan fokuslah hanya kepada satu atau dua resolusi.”
Semoga resolusi Anda tahun ini bisa terwujud. [ar/ka]
Forum