Tautan-tautan Akses

Clinton, Trump Berdebat Soal Ekonomi, Peran AS di Dunia

Debat kepresidenan pertama antara kandidat presiden AS dari Partai Republik Donald Trump dan kandidat Partai Demokrat Hillary Clinton di Hofstra University di Hempstead, New York (26/9).
Debat kepresidenan pertama antara kandidat presiden AS dari Partai Republik Donald Trump dan kandidat Partai Demokrat Hillary Clinton di Hofstra University di Hempstead, New York (26/9).

Trump dan Clinton memberikan rencana yang kontras mengenai ekonomi dan peran Amerika di luar negeri di hadapan pemilih potensial Senin malam (26/9).

Calon presiden AS dari Partai Republik Donald Trump mengatakan dalam debat kepresidenan pertama melawan kandidat Partai Demokrat Hillary Clinton, Senin (26/9), bahwa sudah saatnya Amerika dipimpin oleh seseorang yang sungguh-sungguh mengerti tentang uang.

Taipan real estat itu membanggakan berbagai keberhasilannya dalam bidang bisnis dengan mengatakan bahwa ia telah berhasil membangun sebuah perusahaan yang luar biasa.

Trump mengeluh bahwa Amerika kini sedang menjadi apa yang disebutnya negara dunia ketiga, dengan infrastruktur dan bandar udara yang buruk. Ia mengatakan uang yang dikirim AS ke Timur Tengah cukup untuk membangun kembali Amerika dua kali.

Trump juga menuduh Clinton dan politisi-politisi lainnya telah menghamburkan kekayaan Amerika, sementara Clinton menuduhnya tidak membayar pajak yang diperlukan untuk memperbaiki jalan-jalan, sekolah dan berbagai proyek lainnya.

Clinton menggarisbawahi klaim Trump bahwa ia adalah seorang pebisnis yang terkenal dengan mengatakan bahwa Trump telah enam kali menyatakan perusahaannya bangkrut, dan bahkan tidak mau membayar kontraktor yang telah menyelesaikan pekerjaannya.

Clinton juga mendesak Trump untuk minta maaf kepada rakyat Amerika karena ia tidak membayar pajak.

Debat Pertama Pilpres AS 2016

Kandidat presiden AS dari Partai Republik Donald Trump (kiri) bersama kandidat Partai Demokrat Hillary Clinton sebelum debat kepresidenan pertama di Hofstra University (26/9) di Hempstead, New York. (AP/ Evan Vucci)
1/11 Kandidat presiden AS dari Partai Republik Donald Trump (kiri) bersama kandidat Partai Demokrat Hillary Clinton sebelum debat kepresidenan pertama di Hofstra University (26/9) di Hempstead, New York. (AP/ Evan Vucci)
Kandidat presiden AS dari Partai Republik Donald Trump dan calon presiden dari Partai Demokrat Hillary Clinton dalam debat presiden pertama di Hofstra University di Hempstead, New York (26/9). (AP/David Goldman)
2/11 Kandidat presiden AS dari Partai Republik Donald Trump dan calon presiden dari Partai Demokrat Hillary Clinton dalam debat presiden pertama di Hofstra University di Hempstead, New York (26/9). (AP/David Goldman)
Kandidat presiden AS dari Partai Republik Donald Trump dan calon presiden dari Partai Demokrat Hillary Clinton dalam debat presiden pertama di Hofstra University di Hempstead, New York (26/9). (Reuters/Rick Wilking)
3/11 Kandidat presiden AS dari Partai Republik Donald Trump dan calon presiden dari Partai Demokrat Hillary Clinton dalam debat presiden pertama di Hofstra University di Hempstead, New York (26/9). (Reuters/Rick Wilking)
Kandidat presiden AS dari Partai Demokrat Hillary Clinton berbicara dalam debat kepresidenan pertama di Hofstra University di Hempstead, New York (26/9). (AP/Julio Cortez)
4/11 Kandidat presiden AS dari Partai Demokrat Hillary Clinton berbicara dalam debat kepresidenan pertama di Hofstra University di Hempstead, New York (26/9). (AP/Julio Cortez)
Kandidat presiden AS dari Partai Republik Donald Trump berbicara dalam debat kepresidenan pertama di Hofstra University di Hempstead, New York (26/9). (AP/Patrick Semansky)
5/11 Kandidat presiden AS dari Partai Republik Donald Trump berbicara dalam debat kepresidenan pertama di Hofstra University di Hempstead, New York (26/9). (AP/Patrick Semansky)
Mantan Presiden Bill Clinton bersalaman dengan istri Donald Trump, Melania, sebelum debat kepresidenan antara Trump dan Hillary Clinton di Hofstra University di Hempstead, New York (26/9). (Reuters/Mike Segar)
6/11 Mantan Presiden Bill Clinton bersalaman dengan istri Donald Trump, Melania, sebelum debat kepresidenan antara Trump dan Hillary Clinton di Hofstra University di Hempstead, New York (26/9). (Reuters/Mike Segar)
Para mahasiswi berpose di depan poster wajah kedua kandidat presiden Hillary Clinton dan Donald Trump di kampus Hofstra University. (VOA/B. Allen)
7/11 Para mahasiswi berpose di depan poster wajah kedua kandidat presiden Hillary Clinton dan Donald Trump di kampus Hofstra University. (VOA/B. Allen)
Media berkumpul di Hofstra University sebelum debat kepresidenan. (B. Allen/VOA)
8/11 Media berkumpul di Hofstra University sebelum debat kepresidenan. (B. Allen/VOA)
Tiga pendukung Donald Trump, mahasiswi Hofstra University di kampus mereka menjelang debat kepresidenan. (VOA/B. Allen)
9/11 Tiga pendukung Donald Trump, mahasiswi Hofstra University di kampus mereka menjelang debat kepresidenan. (VOA/B. Allen)
Kampus Hofstra University yang telah menjadi tuan rumah debat kepresidenan, yaitu tahun 2008, 2012 dan 2016. (B. Allen/VOA)
10/11 Kampus Hofstra University yang telah menjadi tuan rumah debat kepresidenan, yaitu tahun 2008, 2012 dan 2016. (B. Allen/VOA)
Para anggota gerakan protes Black Lives Matter berbicara dengan wartawan di kampus Hofstra University menjelang debat kepresidenan pertama. (VOA/B. Allen)
11/11 Para anggota gerakan protes Black Lives Matter berbicara dengan wartawan di kampus Hofstra University menjelang debat kepresidenan pertama. (VOA/B. Allen)
Previous slide
Next slide

Terkait politik luar negeri, Trump mengatakan, Amerika terbelakang dibandingkan negara-negara lain dalam kemampuan militernya. Menurutnya, pemerintahan Presiden Obama telah kehilangan kesempatan untuk mempertahankan kestabilan senjata nuklir karena tidak memasukkannya sebagai syarat dalam perjanjian nuklir dengan Iran.

Ia menambahkan bahwa Iran seharusnya ditekan untuk mendesak Korea Utara agar menghentikan program nuklirnya.

Clinton membela perjanjian nuklir dengan Iran itu dengan mengatakan, akan lebih mudah untuk berurusan dengan Iran dan mendapat bantuan darinya dengan “menghentikan kemampuan Iran membuat senjata nuklir.”

Ia menuduh Trump menganggap enteng negara-negara yang berusaha memiliki senjata nuklir dan tidak peduli jika negara-negara lain membuat senjata nuklir.

Menurut Clinton, sikap Trump itu akan sangat berbahaya apabila teroris bisa mendapat senjata nuklir, dan ia menuduh Trump siap melancarkan perang dengan “menghancurkan sejumlah pelaut Iran” yang mengejek pelaut Amerika di perairan internasional.

Clinton juga membela “stamina” atau kesehatan fisiknya dengan mengatakan bahwa ia telah bepergian ke ratusan negara, terlibat dalam perundingan dagang yang berlarut-larut dan bahkan hadir dalam sidang dengar pendapat dengan Kongres yang berlangsung selama 11 jam.

Trump yang kadang-kadang tampak marah dan sengit diejek oleh hadirin yang mengikuti debat calon presiden itu di Universitas Hofstra di New York, khususnya ketika ia mengatakan bahwa ia punya “temperamen” yang lebih baik untuk menjadi presiden.

Pada akhirnya, Clinton menyerukan kepada rakyat Amerika untuk memberikan suara pada hari pemilihan umum nanti “karena masa depan kalian akan tergantung dari hasil pemilihan itu.”

Trump mengatakan, meskipun ia adalah calon yang lebih baik, ia akan mendukung Clinton kalau Clinton menang dalam pemilihan presiden mendatang. [isa/sp]

XS
SM
MD
LG