Tautan-tautan Akses

Aktivis Lingkungan: Selamat Datang Ramadan, Mari Puasa Plastik Sekali Pakai


Instalasi keran air mengeluarkan sampah plastik, mengajak masyarakat waspada bahaya mikroplastik (Petrus Riski/VOA)
Instalasi keran air mengeluarkan sampah plastik, mengajak masyarakat waspada bahaya mikroplastik (Petrus Riski/VOA)

Dalam rangka memperingati Hari Peduli Sampah Nasional, sejumlah aktivis lingkungan di Surabaya menggelar aksi dan menyerukan puasa plastik sekali pakai untuk mengurangi krisis sampah plastik di Indonesia. Seruan ditujukan kepada pemerintah dan masyarakat di seluruh penjuru tanah air.

Menyambut bulan suci Ramadan, komunitas ECOTON (Ecological Observation and Wetlands Conservation), Aksi Biroe, dan Six for Nature menggelar aksi simbolik di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya (26/2). Dalam aksi ini, mereka membawa poster berisi ajakan kepada masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Aksi merekan ini meerupakan bagian dari peringatan Hari Peduli Sampah Nasional yang jatuh pada setiap tanggal 21 Februari.

Selain poster-poster, aksi ini juga menghadirkan instalasi keran air raksasa yang mengeluarkan sampah plastik. Instalasi tersebut menggambarkan betapa daruratnya krisis sampah di Indonesia, sekaligus menjadi pengingaant akan dampak buruk pencemaran plastik terhadap lingkungan.

Syariyfa Khansa, mahasiswi dari Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya, Malang, yang ikut dalam aksi itu, mengatakan kegiatan tersebut ditujukan untuk mengingatkan pemerintah dan masyarakat agar menyikapi secara serius fakta krisis sampah plastik di Indonesia.

Siswa SMA Al-Muslim Sidoajo turut menyuarakan stop pemakaian plastik sekali pakai pada peringatan Hari Peduli Sampah Nasional 2025 di Surabaya (Petrus Riski/VOA)
Siswa SMA Al-Muslim Sidoajo turut menyuarakan stop pemakaian plastik sekali pakai pada peringatan Hari Peduli Sampah Nasional 2025 di Surabaya (Petrus Riski/VOA)

Terkait Ramadan, Khansa mengingatkan masyarakat untuk juga berpuasa plastik. Ia mengajak masyarakat untuk menggunakan wadah guna ulang, saat membeli makanan atau minuman untuk hidangan berbuka atau sahur.

“Berkali-kali Ramadan datang dan terbukti bahwa penggunaan plastik di bulan Ramadan itu sangat meningkat, lebih tinggi lagi dari pada bulan-bulan biasanya karena akan banyak sekali orang-orang berjualan dan itu mereka lebih menggunakan kemasan yang simpel seperti plastik, sehingga di sini kami ingin menghentikan hal itu terjadi, dan lebih mengarahkan masyarakat untuk menggunakan wadah guna ulang,” jelas Khansa.

Upaya mengurangi sampah plastik harus dimulai dari tingkatan terkecil, seperti rumah atau sekolah, kata Ahmad Fahri Rizky, siswa SMA Al-Muslim Sidoarjo, yang juga terlibat dalam aksi itu.

Ia mengaku telah terbiasa mengurangi penggunaan plastik setelah di sekolah melarang pemakaian plastik sekali pakai. Fahri diajarkan untuk membeli makanan dengan memperhatikan kemasan yang ramah lingkungan, serta menggunakan wadah guna ulang untuk mengurangi pemakaian kemasan plastik.

Aksi peringatan Hari Peduli Sampah Nasional di Surabaya, menyerukan puasa plastik (Petrus Riski/VOA)
Aksi peringatan Hari Peduli Sampah Nasional di Surabaya, menyerukan puasa plastik (Petrus Riski/VOA)

“Karena di sekolah saya itu sekolah yang adiwiyata, jadi di sekolah saya itu bebas penggunaan sampah plastik. Kami disuruh untuk menggunakan botol tumbler atau membawa bekal sendiri dari rumah membawa kotak bekal. Saya biasanya mengurangi jajan sih, lalu jika saya ingin jajan saya juga melihat dulu apa yang digunakan untuk mewadahi jajan tersebut, kemasannya,” sebutnya.

Juru bicara dan peneliti ECOTON, Alaika Rahmatullah menyebut ancaman mikroplastik semakin nyata dalam hidup sehari-hari. Mikroplastik tidak hanya ada di air yang biasa diminum, makanan, maupun udara, tapi juga pada kemasan-kemasan seperti kantong teh celup.

Aktivis Lingkungan Selamat Datang Ramadan, Mari Puasa Plastik Sekali Pakai
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:04:06 0:00

“Riset terbaru dari ECOTON, kami menemukan bahwasannya di lima brand teh celup, itu terkontaminasi mikroplastik. Dia melepaskan sekitar 4.000 partikel setiap satu teh celup. Ternyata dari partikel mikroplastik yang dilepaskan itu adalah polimer-nya polyethylene. Polyethylene itu adalah bahan yang sama yang digunakan di botol AMDK (air minum dalam kemasan),” kata Alaika Rahmatullah.

Alaika menambahkan, dari kajian Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, miktroplastik dalam tubuh manusia tidak hanya mengganggu sistem hormonal tetapi juga mempengaruhi daya pikir seseorang terutama anak-anak.

“Bahayanya itu dari teh celup itu tenyata bisa memicu gangguan sistem hormonal. Terus yang kedua, ternyata penelitian terbaru didukung oleh teman-teman dari Kedokteran UI, itu menyampaikan dari mikroplastik 35 persen itu bisa membuat fungsi kognitif semakin melemah, artinya daya tangkap dan cara berpikir itu juga akan menurun.”

Mikroplastik ditemukan pada kantong teh celup, hasil riset ECOTON (foto ECOTON)
Mikroplastik ditemukan pada kantong teh celup, hasil riset ECOTON (foto ECOTON)

Menurut Alaika, pemerintah Indonesia harus mulai melakukan banyak kajian terkait mikroplastik untuk membentuk standar baku mutu, untuk mengetahui berapa ukuran ambang batas yang bisa ditoleransi tubuh manusia. Sebagai salah satu negara penyumbang sampah plastik terbesar, dan negara yang mengkonsumsi plastik terbesar, Indonesia harus mulai membuat dan melaksanakan kebijakan pengurangan plastik, serta mendorong industri untuk mendistribusikan produknya melalui sistem guna ulang, katanya.

Sejumlah negara telah melakukan penelitian dan membuat undang-undang yang mengatur penggunaan partikel plastik berukuran sangat kecil, kurang dari lima milimeter, atau disebut mikroplastik. Amerika Serikat, contohnya, membuat undang-undang pada 2015 yang melarang produk perawatan pribadi yang memanfaatkan partikel plastik berukuran kurang dari lima milimeter. Hampir semua negara bagian di Amerika Serikat juga telah membatasi penggunaan plastik sekali pakai. [pr/ab]

Forum

Recommended

XS
SM
MD
LG